Home » » MAKALAH ETNOBOTANI PADI MASYARAKAT KAMPUNG NAGA TASIKMALAYA

MAKALAH ETNOBOTANI PADI MASYARAKAT KAMPUNG NAGA TASIKMALAYA

Written By Hery Yanto on Sabtu, 12 Januari 2013 | Sabtu, Januari 12, 2013

BAB I. PENDAHULUAN
 


1.1. Latar Belakang


Indonesia dikenal mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun fauna. Selain keanekaragaman hayati tersebut, Indonesia juga memiliki keanekaragaman yang lain yaitu keanekaragaman suku/etnis yang tersebar diseluruh Indonesia. Setiap suku di Indonesia mempunyai pengetahuan tradisional yang biasanya diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya, yang pada umumnya dilakukan secara oral. Salah satu pengetahuan tradisional yang dimiliki suku di Indonesia yaitu pemanfaatan tumbuhan untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengetahuan tradisional yang dimiliki setiap suku di Indonesia perlu didokumentasikan melalui kajian etnobotani supaya pengetahuan pemanfaatan tumbuhan yang dimiliki dari setiap suku tidak hilang ditelan modernisasi budaya. Menurut Soekarman dan Riswan (1992), etnobotani adalah ilmu yang mempelajari hubungan langsung manusia dengan tumbuhan dalam kegiatan pemanfaatannya secara tradisional. Adanya modernisasi budaya tersebut di atas dapat menyebabkan hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat (Santhyami & Sulistyawati 2010).
Sumber daya hayati di Indonesia memiliki tingkat keragaman yang tinggi, diperkirakan hutan-hutan di Indonesia dihuni oleh kurang lebih 100-150 suku tumbuhan yang meliputi 25-30 ribu jenis tumbuh-tumbuhan. Tingginya jenis tumbuhan tersebut merupakan salah satu sumbangan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan hidup. Keadaan tersebut memungkinkan bagi masyarakat bangsa Indonesia terutama yang tinggal di pedesaan sekitar hutan untuk memanfaatkannya. Pemanfaatan tersebut umumnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup yang meliputi kebutuhan pangan, papan, sandang, obat-obatan, peralatan-peralatan dan penyelenggaraan upacara-upacara adat yang ada pada masyarakat adat.
Kampung Naga memiliki
beraneka macam Flora dan Fauna. Flora diantaranya adalah pohon Alba, pohon Aren, pohin pisang, pohon singkong, pohon kelapa, padi jagung dll. Dan Fauna diantaranya adalah kambing, ikan air tawar, kerbau, ayam dll. Flora di Kampung Naga yang paling utama atau pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah Padi.

1.2. Rumusan Masalah
  • Bagaiman budidaya padi di Kampung Naga ?
  • Bagiamana peranan padi untuk ketahanan pangan masyarakat Kampung Naga ?
  • Bagaimana perekonomian masyarakat Kampung Naga ?
1.3. Tujuan
  • Mengetahui budidaya tanaman padi di Kampung Naga
  • Mengetahui peran padi untuk ketahanan pangan masyarakat Kampung Naga
  • Mengetahui perekonomian Masyarakat Kampung Naga

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
 
Etnobotani mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suku bangsa yang primitif, yang mana gagasannya telah disampaikan pada pertemuan perkumpulan arkeologi tahun 1895 oleh Harsberger.(Chandra 1990, dalam Soekarman 1992).
Dari latar belakang sejarahnya, masyarakat adat Kampung Naga mengaku keturunan dari Eyang Singaparna, pewaris terakhir tahta Kerajaan Galunggung yang beragama Islam. Namun bila dilihat dari tata cara mereka melakukan ritual agama yang lebih sarat dengan kehindubudhaannya, dan seni tradisi yang masih berkembang di kampung itu. Kampung Naga secara administrasi termasuk ke dalam desa Neglasari. Menurut data demografi desa Neglasari tahun 2000 dapat disimpulkan sebagian besar penduduk (72,41%) mata pencahariannya bertani dan (18,79%) sebagai buruh tani (Herawati, 2001).
Tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dalam upacara ritual padi atau pawang padi disebut candoli. Nilai-nilai tradisional tentang padi yang terefleksikan dalam cara bertani melahirkan sikap hati-hati terhadap padi yang disebut etika padi, dan ditemukan di ketiga masyarakat adat. Mereka telah mengkonservasi tanaman padi secara tradisional ketika berada di ladang ataupun setelah padi disimpan di dalam leuit atau lumbung padi. Hal ini dikarenakan mereka memiliki pengetahuan warisan dari generasi ke generasi tentang seleksi benih, penyimpanan benih, dan membuat ramuan obat hama padi yang bersifat pestisida alami yang diramu dari berbagai jenis tanaman atau tumbuhan di daerahnya (Garna, 1987; Iskandar, 2001; Permana, 2001).
Berdasarkan literature Grist (1960), padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan kedalam :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Liliopsida (Monokotil)
Ordo : Poales
Famili : Poaceae ( suku rumput-rumputan)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L
 
 
BAB III. PEMBAHASAN
 
3.1. Budidaya Padi, pare (Oryza sativa) di Kampung Naga

Padi sangat penting secara kultural bagi kebanyakan masyarakat Asia termasuk Indonesia. Tanaman ini juga merupakan tanaman pokok yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat Kampung Naga. Dan flora di Kampung Naga yang paling utama atau pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah padi. Jenis padi pada masyarakat Kampung Naga memiliki dua jenis yaitu padi lokal atau padi ageung karena benih diambil dari lokal daerah Kampung Naga juga mempunyai unsur tanam yang panjang.

3.2.1. Tata Guna Lahan Persawahan di Kampung Naga
Sistem sawah merupaka sistem pertanian yang umum dan dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Kampung Naga. Hal tersebut dikarenakan secara geografis Kampung Naga berada pada suatu lembah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian. Di samping itu di Kampung Naga cukup tersedia kebutuhan air yaitu dari aliran sungai Ciwulan. Sawah oleh masyarakat Kampung Naga sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu merupakan warisan dari nenek moyangnya. Diperkirakan pengelolaannya masih bersifat sederhana atau tradisional. Seiring dengan perkembangan jaman pengaturan air pesawahan pada masyarakat Kampung Naga telah menggunakan saluran irigasi sejak tahun 1990-an dengan nama irigasi Bluk. Pesawahan umumnya ditanami oleh jenis padi (Oryza sativa) yang bersifat local atau padi ageung yang mempunyai umur tanam 5-6 bulan seperti jenis Lokcan, Regol, Jamlang. Selain itu ada juga yang menanam jenis padi hawara atau padi umur pendek seperti padi IR yang mempunyai umur tanam 3-4 bulan.
Lahan persawahan juga dilengkapi dengan petak dan pematang, sehingga sawah menjadi berteras mengikuti garis kontur (ngais gunung), dapat dilihat pada Gambar. 1. Keadaan tersebut merupakan salah satu bentuk konservasi lahan. Menurut Soemarwoto (1983) adanya teras pada sawah yang mengikuti garis kountur dan petak yang hampir datar serta pematang berfungsi untuk menahan air. Petak dan pematang akan menahan aliran air yang pelan-pelan dari satu petak ke petak lain, sehingga melindungi tanah dari erosi. Pada waktu hujann deras pun laju erosi akan rendah.
image
Gambar 1. Persawahan di Kampung Naga

3.2.2. Sistem tanam padi


Cara bertanam padi telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Sedikitnya sistem bertanam padi di Jawa Barat telah mengalami tiga periode yakni periode bertanam padi sekali setahun (semusim), periode tanam padi dua kali setahun, dan kemudian periode tanam padi tiga kali setahun. Di beberapa kampung adat cara bertanam padi ini bervariasi. Sejak diperkenalkannya revolusi hijau melalui penerapan panca usaha tani tahun 1960-an, cara bertani tradisional di masyarakat adat mulai berubah dari menanam padi lokal setahun sekali, kemudian menanam varietas padi unggul 2 atau 3 kali setahun. Perubahan ini tak dapat dihindari untuk mengatasi kebutuhan pangan yang semakin besar akibat pesatnya ledakan jumlah penduduk. Maka terjadi adaptasi sistem bertani untuk memenuhi kebutuhan produksi dan desakan ekonomi.
Meskipun demikian, di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat masih ditemukan masyarakat adat yang tetap memegang teguh cara bertani tradisional dengan cara tanam sekali setahun untuk tujuan konservasi. Mereka tidak terpengaruh oleh cara bertanam dengan menggunakan sistem baru karena sangat memegang teguh amanat leluhur untuk tetap melestarikan padi yang disimbolkan sebagai Nyi Pohaci.

3.2.3. Benih padi


Masyarakat Kampung Naga sebagian besar merupakan petani sawah. Masyarakat Kampung Naga menerapkan suatu pantangan atau pamali yaitu menanam padi hawara atau hibrida di lahan pesawahannya. Walaupun sekarang ada juga yang membudidayakan jenis padi tersebut, tapi mereka menganggap dirinya telah bersalah dan takut durhaka pada nenek moyangnya karena telah melanggar adat. Selain itu mereka juga mengaku kesulitan dalam pengolahan dan pemeliharaan padi varietas tersebut, karena kurangnya pengetahuan. Padi yang umumnya ditanam dan merupakan padi lokal masyarakat Kampung Naga adalah padi ageung. Para masyarakat Kampung Naga memproduksi sendiri kebutuhan pokoknya itu. Dan ada beberapa jenis padi lokal (padi ageung) yang ditanam di Kampung Naga, diantaranya adalah :
a. Padi Jamblang : Padi jamblang ini ujungnya atau ekornya berwarna kuning
b. Padi Lokcan : Padi ini ujungnya berwarna hitam.
c. Padi Regol
d. Padi Sreksrek : Padi ini ujung-ujungnya berwarna merah
e. Padi Cere : Padi ini keseluruhan berwarna hitam.
f. Padi Sari Kuning
g. Padi Goyot
Jenis padi tersebut merupakan padi yang sering dibudidayakan. Jenis kedua yaitu padi hawara atau padi umur pendek dan padi ini benihnya berasal dari luar. Padi ini jarang dibudidayakan karena alasan adat yaitu mereka merasa bersalah karena telah melanggar adat juga kerepotan dalam pengelolaannya atau budidayanya.
Sampai tahun 1986 di Kampung Naga masih dipertahankan padi lokal dan selalu menolak bibit padi varietas unggul yang dianjurkan dalam program Panca Usaha Tani. Sekarang mereka sudah menerima varietas padi unggul. 80% area pesawahan di Kampung Naga tetap ditanami varietas padi lokal, baru sisanya 20% ditanami varietas padi unggul (Kompas, 2003).

3.2.4. Pemupukan


Masyarakat kampung naga telah mengetahui bahwa penggunaan pupuk (anorganik dan organik) dapat meningkatkan hasil atau produksi tanaman. Tetapi tidak semua masyarakat menggunakan pupuk anorganik dengan alasan sulit untuk membawa pupuk anorganik ke lokasi pertanaman serta sebagian besar masyarakat menganggap penggunaan pupuk anorganik dapat merusak lingkungan. Dan masyarakat Kampung Naga sudah terbiasa menggunakan pupuk organik tersebut yang mereka olah sendiri dengan campuran kotoran hewan dan campuran bahan-bahan lainnya yang masih alami. Dan pupuk yang mereka olah sendiri sudah turun temurun ada dari jaman nenek moyangnya dulu.

3.2.5. Panen dan Pasca Panen


Masyarakat Kampung Naga mengetahui bahwa penggunaan mesin perontok dan penggiling padi (RMU) akan lebih cepat jika dibandingkan dengan cara tradisional. Namun alat tersebut tidak mereka gunakan karena dengan menggunakan lesung, penyusutan hasil lebih sedikit dan rasa nasi lebih enak jika dibandingkan dengan mengunakan RMU. Pada perayaan-perayaan yang dilakukan di kampung naga yang membutuhkan beras dalam jumlah banyak, mereka menggunakan mesin penggiling yang dilakukan di luar kampung.

3.3. Peran Padi di masyarakat Kampung Naga
3.3.1. Ketahanan Pangan


Padi tersebut digunakan untuk konsumsi sendiri yang disimpan untuk persediaan, terutama untuk jenis padi ageung. Sedangkan untuk padi hawara umumnya dijual digunakan untuk membantu biaya pengolahan dan pemeliharaan lahan pesawahan seperti untuk mengolah lahan dan pemupukan. Padi tersebut biasanya dijual kepada para agen yang dikenal dengan istilah tukang pare dan biasa membeli padi dalam keadaan basah atau kering (telah dijemur).
Walaupun hasil panen tidak dijual untuk pemenuhan ekonomi, namun masyarakat Kampung Naga tidak pernah kekurangan pangan. Jenis padi lokal tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kampung Naga. Dari hasil bertani mereka bisa mendapatkan 4 kuintal per kepala keluarga dalam setiap kali panen selama 6 bulan sekali. Jumlah ini sudah lebih cukup untuk konsumsi harian dan bekal untuk menanti panen berikutnya. Masyarakat Kampung Naga menganggap padi lokal selalu membawa banyak berkat. Mereka tidak pernah kekurangan padi atau beras dalam setiap siklus atau putaran masa penanaman padi. Mereka juga selama ini tidak pernah gagal panen. Menyimpan padi di rumah, bukan sekedar menyimpan bahan makanan pokok, tetapi mereka merasa menyimpan dan memelihara suatu amanat dari leluhur mereka.

3.3.2. Ekonomi
Dalam masyarakat Kampung Naga, padi sebagian besar hanya untuk dikonsumsi sendiri dan jarang untuk di jual ke bandar atau agen. Padi dianggap sakral, sehingga tidak diabaikan secara sembarangan. Setiap tahap mengandung ijab kabul. Ucapan-ucapan ini dilatihkan di rumah masing-masing yang intinya berharap dan bermohon agar akar, pohon, daun, dan bulirnya bagus, sedikit agar cukup, banyak agar bersisa, jangan habis jika diambil. Tujuan bertani mereka untuk kesejahteraan, bukan hanya bekerja keras mengeluarkan keringat (mun tani hayang timbul mukti lain daki).
Bagi masyarakat Kampung Naga menanam padi di ladang dan sawah merupakan upaya memelihara amanat leluhur untuk melestarikan padi lokal. Itu sebabnya strategi bersawah dan berladang lebih bersifat konservasi dan spiritual yang ditujukan pada kualitas hasil panen, bukan untuk mengejar peningkatan produksi untuk pemenuhan ekonomi. Oleh sebab itu, hanya sebagian kecil masyarakat Kampung Naga yang menjual padi untuk pemenuhan ekonomi mereka.
Mata pencaharian utama Masyarakat Kampung Naga adalah bertani, tetapi inipun dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau subsisten. Dan para warga memerlukan mata pencaharian lain sebagai alternatif untuk mencukupi kebutuhan mereka. Dengan adanya wisata Kampung Naga, maka dapat membuka lapangan pekerjaan baru sebagai alaternatif mata pencaharian warga Kampung Naga. Pengrajin dan pamandu wisata adalah contoh lapangan pekerjaan yang timbul dari adanya wisata Kampung Naga. Adanya pekerjaan alternatif menjadi pemandu wisata dan pengrajin dapat membuat meningkatnya kesejahteraan ekonomi keluarga.

3.4. Konsep Nasi di Kampung Naga

Sejumlah kelompok etnik di Indonesia memiliki cara yang khas untuk mengungkapkan konsep nasi dalam bahasanya. Keunikan cara pengungkapan tersebut mencerminkan keragaman realitas dan budaya yang melatarbelakanginya. Salah satu kelompok etnik yang memiliki konsep unik tentang nasi adalah masyarakat adat Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka mengenal berbagai leksikon yang berkaitan dengan nasi, seperti ditutu [ditutu] ‘ditumbuk’, ditapian [ditapi?an] ‘diayak’, diisikan [diisikan] ‘dicuci’, dikarihan [dikarihan] ‘dimasak setengah matang’, diseupan [disəpan] ‘ditanak’, dan diakeul [diakel] ‘diaduk perlahan setelah matang’. Leksikon-leksikon tersebut memiliki makna yang khas bagi masyarakat adat Kampung Naga yang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokalnya.
Wierzbicka (1997: 4) mengemukakan bahwa kata mencerminkan dan menceritakan karakteristik cara hidup dan cara berpikir penuturnya, serta dapat memberikan petunjuk yang sangat bernilai dalam upaya memahami budaya penuturnya. Begitu pun halnya dengan leksikon konsep nasi masyarakat di Kampung Naga, leksikon tersebut dapat memberikan gambaran tentang pandangan kolektif masyarakat adat.
Masyarakat adat Kampung Naga cenderung menggunakan peralatan yang langsung didapat dari alam sekitar mereka, seperti tampir, halu, lisung, hihid, cubleg, hawu, suluh, songsong, boboko, dan nyiru. Leksikon-leksikon tersebut tidak terlepas dari budaya sekitar atau kearifan lokal yang berlaku di Kampung Naga. Pengetahuan praktis masyarakat Kampung Naga tentang ekosistem lokal, sumber daya alam, dan bagaimana mereka saling berinteraksi tercermin di dalam aktivitas keseharian yang mencakup keterampilan mereka dalam mengelola sumber daya alam.
Selain pengetahuan masyarakat adat Kampung Naga dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya, ternyata masyarakat adat Kampung Naga juga mengenal atau mengetahui adanya mitos-mitos tertentu yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Contohnya, masyarakat adat Kampung Naga ternyata mengetahui mitos Dewi Sri atau yang sering dikenal dengan Dewi Padi, Dewi pemberi kemakmuran. Dewi Sri atau Dewi Shri (bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, Dewi padi dan sawah, serta Dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam di pulau Jawa. Hal tersebut tergambar dari proses menanak nasi yang panjang, mulai dari penumbukan padi hingga proses menanak nasi yang harus dikerjakan secara benar untuk menghormati keberadaan Dewi Sri. Pada leksikon konsep nasi pun tergambar jelas bentuk penghormatan masyarakat adat Kampung Naga terhadap Dewi Sri. Pada proses diakeul, misalnya, yang bertujuan agar nasi menjadi pulen atau legit ketika dikonsumsi, tercermin penghormatan masyarakat adat Kampung Naga kepada Dewi Sri yang telah memberikan hasil panen yang melimpah, khususnya padi. Di sisi lain, ternyata proses diakeul tersebut menyiratkan pesan bahwa nasi yang merupakan pemberian Tuhan haruslah dihidangkan dengan baik karena proses diakel dapat menjadikan nasi terasa lebih pulen dan enak untuk dikonsumsi.

3.5. Upacara dan Etika Ritual terhadap Padi


Padi bagi masyarakat kampung Naga selain merupakan bahan makanan pokok juga memiliki arti spiritual yang banyak memberikan corak pada perilaku. Sejumlah etika dan upacara ritual telah menempatkan padi sebagai benda yang penuh magis. Yang berhubungan erat dengan mitos padi. Masyarakat kampung Naga mempercayai adanya seorang Dewi di Kahyangan yang bertugas mengayomi tanaman padi. Oleh karena itu etika dan upacara ritual mengenai padi merupakan personifikasi terhadap penyayomnya yang dikenal dengan sebutan Dewi Sri atau Nyi Pohaci. Menurut Mutakin (1984:34) beberapa bentuk perlakuan sakral terhadap padi yang berhubungan dengan nilai etika dan upacara ritualnya adalah :

a. Upacara Penanaman Padi
Cara yang dilakukan masyarakat Kampung Naga dalam mengolah lahan pertanian pada prinsipnya memakai dua cara. Cara pertama, sawah dikerjakan sendiri oleh pemilik dengan system upah (mempekerjakan orang lain) dan cara yang kedua yaitu pemilik sawah menyewakan sawahnya untuk digarap oleh orang lain. Pengolahan lahan pertanian dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana dan masih bersifat tradisisonal seperti wuluku, pasang, garu, dan cangkul.
Penanaman padi diawali dengan pelaksanaan kegiatan yang disebut magawe atau membajak sawah, selanjutnya yaitu babut yang merupakan kegiatan pengambilan benih dari kebun benih (pabinihan) untuk ditanam di sawah, ngarujakan padi setelah tandur, nyarian saat padi telah mengembang bunganya (beukah). Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut diawali dengan ngadupa kemenyan atau pembakaran kemenyan dengan menggunakan sabut kelapa dan kemenyan yang berasal dari Styrak sp. Dalam hal ini mereka percaya pada hal-hal ghaib.

b. Upacara Ngajuruan
Upacara ini dilakukan pada saat padi hendak dipanen dengan dipimpin oleh seorang sesepuh kampung yang dikenal dengan sebutan candoli. Upacara dilakukan di salah satu sudut petak sawah yang dipilih dimana bulir-bulir padinya sangat bagus. Beberapa rumpun padi yang memenuhi persyaratan lalu diikat sehingga jaraknya lebih merapat. Ramuan sesajen yang terdiri dari kelapa muda, cerutu, kapur sirih, nasi tumpeng, telur ayam dan sejumlah penganan lainnya disiapkan dan diberikan mantra-mantra (dengan menggunakan bahasa jawa kuno).
Mantra-mantra tersebut berisi pujian, ungkapan terimakasih dan permohonan perlindungan kepada Sanghiyang Pencipta, Nyai Pohaci dan para leluhur. Benda lain yang diikut sertakan dalam acara ini adalah sebuah cermin (eunteung) dan parupuyan (tempat membakar kemenyan) yang dilindungi oleh sebuah payung dan dihiasi oleh selendang dan hiasan janur.
Setelah rangkaian upacara selesai, sang pawang padi lalu memberi isyarat kepada para wanita yang telah menunggu untuk segera memulai memanen padi. Rumpun padi yang terpilih dan berada dalam ikatan akan dipisahkan dan disimpan di lumbung untuk djadikan bibit pada masa tanam berikutnya.

c. Upacara Panen
Upacara panen merupakan upacara perorangan, artinya jika sebuah keluarga akan memanen hasil sawahnya, maka keluarga tersebut melakukan upacara panen guna menetapkan kapan hari pemanenan bisa dilaksanakan. Pencarian hari panen dilakukan di rumah keluarga yang akan memanen hasil sawahnya, dibawah pimpinan candoli, atau lebih sering oleh kuncen Kampung Naga dibantu oleh lebe dan tetua kampung. Ditentukan melalui rangkaian penghitungan yang disebut palintangan. Setelah pihak keluarga mendapatkan hari baiknya, maka acara panen di sawah dilaksanakan, dan kemudian ditutup dengan upacara syukuran kepada Nyi Pohaci Sang Hyang Asri.
Pada hari panen keluarga yang akan memanen harus menyiapkan syarat-syarat antara lain, sawen, pucuk tanjeur, pucuk gantung (pupuhunan), empos, nasi tumpeng, dan sesajen pelengkap lainnya. Syarat-syarat ini di gunakan dalam prosesi pengambilan ibu padi.

d. Upacara penyimpanan padi
Urusan ini masih merupakan tugas Candoli atau pawang padi. Setelah ikatan padi (yang terpilih) berada dalam ambang leuit (pintu lumbung), pawang padi lalu merapalkan amit-amit (permohonan izin) dan bujukan-bujukan bahwa telah tiba saatnya kadeudeuh Nyi Pohaci (maksudnya yang menjadi kesayangan Nyi Pohaci yaitu padi), untuk disimpan. Dalam hal ini dimintakan keikhlasan dan lindungan dari Nyi Pohaci agar padi yang disimpan itu bermanfaat dan terbebas dari segala gangguan.

e. Upacara ngaleuseuhan
Adalah satu upacara dimana padi yang baru dipanen, secara perdana akan ditumbuk. Prosedur dalam upacara tersebut antara lain : upacara masih merupakan urusan Candoli. Lisung-lisung (tempat menumbuk padi) yang akan dipakai untuk menumbuk padi dihiasi seindah mungkin dan disiapkan sesajen seperlunya. Setiap ibu rumah tangga yang akan menumbuk padi diharuskan membawa padinya masing-masing dengan takaran kira-kira cukup untuk sekali makan sekeluarga yang bersangkutan. Seusai candoli merampungkan upacara, barulah padi-padi tersebut ditumbuk secara beramai-ramai sambil kakawihan (bernyanyi) yang berisi pujian-pujian terhadap Nyi Pohaci. Padi hasil tumbukan tersebut lalu dimasak beramai-ramai dan nasi yang dihasilkannya dibagikan kepada seluruh anggota masyarakat.
clip_image002
Gambar 2. Lisung-lisung
  


BAB IV. PENUTUP

Padi merupakan salah satu tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Kampung Naga. Benih yang digunakan dalam budidaya padi di Kampung Naga, sebagian besar masyarakat menggunakan benih varietas lokal walaupun umur tanamnya lama. Hal tersebut disebabkan, karena bila masyarakat Kampung Naga menggunakan varietas hawara/hibrida, maka mereka merasa bersalah dan durhaka terhadap Nenek moyang mereka karena telah melanggar adat atau kebiasaan. Serta karena jika mereka menggunakan benih varietas hawara/hibrida, maka mereka akan kesulitan dalam pemeliharaan atau pengelolaannya yang disebabkan keterbatasan masyarakat Kampung Naga terhadap pengetahuan dan teknologi yang sudah berkembang.
Budidaya padi di Kampung Naga dengan menggunakan benih padi varietas lokal, sudah dapat memenuhi ketahanan pangan masyarakat Kampung Naga. Walaupun hasil panen dari padi tersebut tidak dapat dijual untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Kampung Naga. Karena sebagian besar dari hasil panen padi tersebut hanya digunakan untuk konsumsi sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan disimpan sebagai persediaan sampai menunggu panen pada musim berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, D. 1994. Faktor Sosial Budaya dalam Proses Adopsi Inovasi Teknologi, Suatu Kajian Tentang Tradisi dan Perubahan Pada Masyarakat dan Migran Asal kampong Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tesis yang tidak diterbitkan, Bandung : Universitas Padjajaran.
Budimansyah , Dasim. Masyarakat Kampung Naga : Antara Tradisi Dan Perubahan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Herawati, I.E. 2001. Struktur Interaksi Golongan Elit dan Warga dalam Mempertahankan Tradisi (Studi Kasus Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat). Skripsi pada Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. IPB, Bogor. Tidak diterbitkan.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Cetakan ke-1-IV. Sasaran Sarana Wana Jaya, Jakarta.
Iskandar, J. 2001. Manusia, Budaya dan Lingkungan. Humaniora Utama Press : Bandung.
Maria, Siti. dkk. 1995. Sistem Keyakinan Pada Masyarakat Kampung Naga Dalam Mengelola Lingkungan Hidup (Studi Tentang Pantangan dan Larangan). Jakarta: Proyek Masyarakat Kampung Naga, Jawa Barat”, dalam Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan. Jakarta: IAAI, hlm.176-177.
Purwitasari, Tiwi. 2006. ”Pemukiman dan Religi Masyarakat Megalitik: Studi Kasus Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Tradisional. Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Soekarman. 1991. Status Pengetahuan Etnobotani di Indonesia. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani. Kerjasama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Departemen Pertanian LIPI dan Perpustakaan Nasional RI, Bogor.
Yulianingsih, Dewi. 2002. Etnobotani pada Masyarakat Adat Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Saluwu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Skripsi pada Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. IPB, Bogor. Tidak diterbitkan.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar

Klik Like ya Kawan! mudah-mudahan amal ibadahnya diterima. amiiiin.....
×

tukeran link yuk sob

 photo hery_zps5d15b497.jpg
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate sama om google

indonesia

Topics :
 
Support : my fb | Your Link | my girl
Copyright © 2013. go green - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger